KETERAMPILAN DASAR DALAM PEMBELAJARAN

KETERAMPILAN DASAR DALAM PEMBELAJARAN

A. Keterampilan Membuka Pelajaran
1. Pengertian
a. Set induction ialah upaya guru menciptakan prakondisi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajari. Dengan kalimat lain, kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari.
b. Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya dilakukan guru pada awal waktu pelajaran, tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan inti pelajaran yang diberikan selama waktu pelajaran itu. Caranya: 1) mengemukakan tujuan yang akan dicapai, 2) menarik perhatian siswa, 3) memberikan acuan, dan 4) membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai siswa dan bahan yang akan dipelajari.


2. Tujuan Pokok Membuka Pelajaran
a. Menyiapkan mental siswa agar siap memasuki persoalan yang akan dipelajari atau dibicarakan.
b. Menimbulkan minat serta pemusatan perhatian siswa terhadap apa yang akan dibicarakan dalam kegiatan pembelajaran.
3. Komponen
a. Menarik perhatian siswa: 1) buy viagra online usa gaya mengajar guru, 2) penggunaan alat bantu pelajaran, dan 3) pola interaksi yang bervariasi.
b. Menimbulkan motivasi: 1) kehangatan dan keantusiasan, 2) menimbulkan rasa ingin tahu, 3) mengemukakan ide yang berten-tangan, dan 4) memperhatikan minat siswa.
c. Memberi acuan: 1) mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas, 2) menyarankan langkah-langkah yang harus dilakukan siswa, 3) mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas, 4) mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
d. Membuat kaitan atau hubungan antara materi yang akan dipelajari dan pengalaman serta pengetahuan yang telah dikuasai siswa.

B. Keterampilan Menutup Pelajaran
1. pengertian
a. Menutup pelajaran (closure) ialah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri pelajaran.
b. Menutup perlajaran dimaksudkan untuk memberi gambaran menyeluruh tentang: 1) apa yang telah dipelajari siswa, 2) mengetahui tingkat pencapaian siswa, dan 3) tingkat keberhasilan guru dalam proses pembelajaran.
c. Bentuknya: 1) merangkum atau membuat garis besar persoalan, sehingga siswa memperoleh gambaran yang jelas tentang makna serta esensi pokok persoalan yang baru saja dibicarakan; 2) mengonsolidasikan perhatian siswa terhadap hal-hal yang pokok dalam pelajaran tersebut agar informasi yang telah diterima dapat membangkitkan minat dan kemampuan terhadap pelajaran selanjutnya; 3) mengorganisasi semua kegiatan atau pelajaran yang telah dipelajari agar tercipta suatu kebulatan yang berarti dalam memahami materi yang baru dipelajari; 4) memberi tindak lanjut berupa saran-saran serta ajakan agar materi yang baru dipelajari jangan dilupakan karena itu dipelajari kembali di rumah.
2. Komponen
Cara yang dapat dilakukan guru dalam menutup pelajaran adalah:
a. Meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dengan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan;
b. Mengevaluasi dengan cara antara lain 1) mendemonstrasikan keterampilan, 2) mengaplikasikan ide baru pada situasi lain, 3) mengeksplorasi pendapat siswa sendiri, 4) memberikan soal-soal tertulis.

C. Keterampilan Menjelaskan
1. Pengertian
a. Penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan, misalnya hubungan sebab-akibat, definisi-contoh, atau sesuatu yang belum diketahui.
b. Penyampaian informasi yang terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok merupakan ciri kegiatan menjelaskan.
c. Pemberian informasi merupakan salah satu aspek penting dari kegiatan guru dalam proses interaksi pembelajaran.
2. Tujuan
a. Membimbing siswa untuk dapat memahami hukum, dalil, fakta, definisi, dan prinsip secara objektif dan bernalar.
b. Melibatkan siswa dalam berpikir dengan memecahkan masalah-masalah atau pertanyaan.
c. Mendapatkan balikan dari siswa mengenai tingkat pemahamannya dan untuk mengatasi kesalahpahaman mereka.
d. Membimbing siswa untuk menghayati, mendapat proses penalaran, dan menggunakan bukti-bukti dalam memecahkan masalah.
3. Alasan Penguasaan Keterampilan Menjelaskan
a. Meningkatkan efektifitas pembicaraan agar benar-benar merupakan penjelasan yang bermakna bagi siswa, karena pada pada umumnya pembicaraan lebih didominasi guru daripada siswa.
b. Penjelasan yang diberikan guru seringkali tidak jelas bagi siswa, walaupun guru menganggap sudah jelas. Misalnya guru selalu mengatakan: “Sudah jelas, bukan?” atau “Dapat dipahami, bukan?” Oleh karena itu, kemampuan mengelola tingkat pemahaman siswa sangat penting dalam memberikan penjelasan.
c. Tidak semua siswa dapat menggali sendiri pengetahuan dari buku atau sumber lainnya. Guru perlu membantu siswa menjelaskan hal-hal tertentu.
d. Kurangnya sumber belajar yang dapat dimanfaatkan siswa dalam belajar. Guru perlu membantu siswa dengan cara memberikan informasi berupa penjelasan yang cocok dengan materi yang diperlukan.
4. Komponen
Perencanaan
a. Penjelasan yang diberikan guru perlu direncanakan dengan baik terutama berkenaan dengan isi pesan dan penerima pesan.
b. Isi pesan (materi) meliputi: 1) analisis masalah secara menyeluruh, 2) penentuan jenis hubungan yang ada di antara unsur-unsur yang dikaitkan dengan penggunaan hukum, rumus, atau generalisasi yang sesuai dengan hubungan yang telah ditentukan.
c. Penerima pesan (siswa) hendaknya diperhatikan hal-hal atau perbedaan-perbedaan pada setiap aspek siswa yang akan menerima pesan seperti usia, jenis kelamin, kemampuan, latar belakang sosial, bakat-minat, serta lingkungan belajar siswa.

Penyajian
a. Kejelasan: Penjelasan hendaknya diberikan dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti siswa. Menghindari penggunaan ucapan seperti “ee”, “aa”, “mm”, “kira-kira”, “umumnya”, “biasanya”, “seringkali”, dan ucapan atau istilah yang tidak dapat dipahami siswa.
b. Penggunaan contoh dan ilustrasi: Penjelasan sebaiknya menggunakan contoh dan ilustrasi yang ada hubungannya dengan sesuatu yang dapat ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari.
c. Pemberian tekanan: Penjelasan harus memusatkan perhatian siswa kepada masalah pokok dan mengurangi informasi yang tidak penting. Dalam hal ini guru dapat menggunakan tanda atau isyarat lisan seperti: “Yang terpenting adalah”, “Perhatikan baik-baik konsep ini”, atau “Perhatikan, yang ini agak sukar”, dan sebagainya.
d. Penggunaan balikan: Guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman, keraguan, atau ketidak-mengertiannya, ketika penjelasan itu diberikan. Hal ini dapat dilakukan guru dengan mengajukan pertanyaan seperti: “Apakah kalian mengerti dengan penjelasan tadi?” “Apakah penjelasan tadi bermakna bagi kalian?” dan sebagainya.

D. Keterampilan Memberikan Penguatan
1. Pengertian
a. Segala bentuk respon, apakah bersifat verbal ataupun nonverbal, merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, bertujuan memberikan informasi atau umpan balik (feedback) bagi penerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu dorongan ataupun koreksi.
b. Atau, Respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengganjar atau membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi pembelajaran.

2. Tujuan
Penguatan mempunyai pengaruh berupa sikap positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan untuk: 1) meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran, 2) merangsang dan meningkatkan motivasi belajar siswa, dan 3) meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif.

3. Jenis-Jenis Penguatan
a. Penguatan Verbal
Biasanya diungkapkan atau diutarakan dengan kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan, dan sebagainya. Misalnya, bagus, bagus sekali, betul, pintar, ya, seratus buat kamu!
b. Penguatan Nonverbal
1) Penguatan dengan gerak isyarat. Misalnya: anggukan atau gelengan kepala, senyum, kerut kening, acungan jempol, wajah mendung, wajah ceria, sorot mata yang sejuk bersahabat atau tajam memandang.
2) Penguatan dengan cara mendekati siswa. Misalnya: guru mendekati siswa untuk menyatakan perhatian dan kesenangannya terhadap pelajaran, tingkah laku, atau penampilan siswa. Misalnya: guru berdiri di samping siswa, berjalan menuju siswa, duduk dekat seorang atau sekelompok siswa, atau berjalan di sisi siswa. Penguatan ini berfungsi menambah penguatan verbal.
3) Penguatan dengan sentuhan (contact). Misalnya, guru dapat menyatakan persetujuan dan penghargaan terhadap usaha dan penampilan siswa dengan cara menepuk-nepuk bahu atau pundak siswa, berjabat tangan, mengangkat tangan siswa yang menang dalam pertandingan. Perlu diperhatikan bahwa penggunaan penguatan dengan cara ini harus mempertimbangkan faktor usia, jenis kelamin, dan latar belakang kebudayaan siswa setempat.
4) Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan. Guru dapat menggunakan kegiatan-kegiatan atau tugas-tugas yang disenangi siswa sebagai penguatan. Misalnya, seorang siswa yang menunjuk-kan kemajuan dalam pelajaran musik ditunjuk sebagai pemimpin paduan suara di sekolah.
5) Penguatan berupa simbol atau benda. Penguatan jenis ini dilakukan dengan cara menggunakan berbagai simbol berupa benda seperti kartu bergambar, bintang plastik, lencana, ataupun komentar tertulis pada buku siswa. Tetapi perlu dicatat bahwa penguatan dengan cara seperti ini jangan terlalu sering digunakan agar tidak terjadi kebiasaan siswa mengharap sesuatu sebagai imbalan.
6) Jika siswa memberikan jawaban yang hanya sebagian saja yang benar, guru hendaknya tidak langsung menyalahkan siswa. Dalam keadaan seperti ini guru sebaiknya memberikan penguatan tak penuh (partial). Misalnya, bila seorang siswa hanya memberikan jawaban sebagian saja yang benar, sebaiknya guru menyatakan, “Ya, jawabanmu sudah baik, tetapi masih perlu disempurnakan”, sehingga siswa tersebut mengetahui bahwa jawabannya tidak seluruhnya salah, dan ia mendapat dorongan untuk menyempurnakannya.

4. Prinsip Penggunaan
a. Kehangatan dan Keantusiasan
Sikap dan gaya guru, termasuk suara, mimik, dan gerak badan, akan menunjukkan adanya kehangatan dan keantusiasan dalam memberikan penguatan. Dengan demikian, tidak terjadi kesan bahwa guru tidak ikhlas dalam memberikan penguatan karena tidak disertai kehangatan dan keantusiasan.
b. Kebermaknaan
Penguatan hendaknya diberikan sesuai dengan tingkah laku dan penampilan siswa, sehingga siswa mengerti dan yakin bahwa ia patut diberi penguatan. Dengan demikian, penguatan itu bermakna baginya, jangan sampai terjadi sebaliknya.
c. Menghindari Penggunaan Respon Negatif
Walaupun teguran dan hukuman masih bisa digunakan, respon negatif yang diberikan guru berupa komentar, bercanda dan nada menghina, ejekan yang kasar, perlu dihindari, karena akan mematahkan atau mengurangi semangat siswa untuk mengembangkan dirinya. Misalnya, jika seorang siswa tidak dapat memberikan jawaban yang diharapkan, guru jangan langsung menyalahkan siswa, jika jawaban siswa tidak benar, tetapi bisa melontarkan pertanyaan yang sama kepada siswa lain.

5. Cara Penggunaan
a. Penguatan kepada Siswa Tertentu
Penguatan harus jelas, kepada siapa ditujukan. Sebab bila tidak jelas akan kurang efektif. Oleh karena itu, sebelum memberikan penguatan, guru terlebih dahulu menyebut nama siswa yang bersangkutan sambil menatap kepadanya.
b. Penguatan Kelompok
Penguatan dapat diberikan kepada sekelompok siswa, misalnya, apabila satu tugas telah diselesaikan dengan baik oleh satu kelas, guru membolehkan kelas itu untuk bermain bola voli yang menjadi kegemarannya.
c. Pemberian Penguatan dengan Segera
Penguatan seharusnya diberikan segera setelah muncul tingkah laku atau respon siswa yang diharapkan. Penguatan yang ditunda pemberiannya cenderung kurang efektif.

6. Variasi dalam Penggunaan
Jenis atau macam penguatan yang digunakan hendaknya bervariasi, tidak terbatas pada satu jenis saja, karena hal itu akan menimbulkan kebosanan dan cenderung kurang efektif.

E. Keterampilan Memberikan Variasi
1. Pengertian
a. Variasi merupakan suatu aktivitas guru dalam proses interaksi pembelajaran, ditujukan untuk mengatasi kebosanan siswa, sehingga dalam proses interaksi pembelajaran, siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme, serta partisipasi secara penuh.
b. Untuk itu, Anda sebagai calon guru dan atau guru perlu berlatih untuk menguasai keterampilan tersebut.

2. Tujuan
a. Menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa dalam proses interaksi pembelajaran
b. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan bakat ingin tahu dan menyelidiki tentang hal-hal baru
c. Memupuk tingkah laku positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik
d. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran yang disenanginya

3. Prinsip Penggunaan
a. Penggunaan variasi hendaknya sesuai atau relevan dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
b. Variasi hendaknya digunakan secara lancar dan berkesinambungan agar tidak merusak perhatian dan mengganggu proses interaksi pembelajaran
c. Penggunaan variasi hendaknya direncanakan secara baik, dan secara eksplisit dicantumkan dalam rencana pelajaran.

4. Komponen
a. Variasi Cara Mengajar Guru
1) Teacher Voice. Variasi suara adalah perubahan suara: keras-lembut, tinggi-rendah, cepat-lambat, gembira-sedih, atau pada suatu saat memberikan tekanan pada kata-kata tertentu.
2) Focusing. Memusatkan perhatian siswa pada hal-hal yang dinggap penting. Misalnya, dengan perkataan: “Perhatikan ini baik-baik”, atau “Nah, ini penting sekali”, atau “Perhatikan dengan baik, ini agak sukar dimengerti”, dan sebagainya.
3) Teacher Silence. Kesenyapan atau kebisuan atau selingan diam yang tiba-tiba dan disengaja selagi guru menerangkan sesuatu merupakan alat yang baik untuk menarik perhatian siswa.
4) Eye Contact and Movement. Kontak pandang hendaknya dilakukan guru ketika berinterkasi dengan siswa. Pandangan guru menjelajahi seluruh kelas dan melihat ke mata siswa untuk menunjukkan ada hubungan yang intim dengan siswa. Kontak pandang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dan mengetahui perhatian atau pemahaman siswa.
5) Teacher Movement. Pergantian posisi guru dalam kelas digunakan untuk mempertahankan perhatian siswa. Terutama bagi calon guru, biasakan bergerak bebas, tidak kikuk atau kaku, dan hindari tingkah laku negatif. Perhatikan beberapa saran berikut ini.
 Biasakan bergerak bebas dalam kelas untuk menanamkan rasa dekat kepada siswa sambil mengontrol tingkah laku siswa.
 Jangan membiasakan menerangkan sambil menulis menghadap ke papan tulis.
 Jangan membiasakan menerangkan dengan arah pandangan ke langit-langit, ke arah lantai, atau ke luar, tetapi arahkan pandangan menjelajah seluruh kelas.
 Bila ingin mengobservasi seluruh kelas, bergeraklah perlahan-lahan dari belakang ke arah depan untuk mengetahui tingkah laku siswa.
6) Gerak Badan dan Mimik. Variasi dengan ekspresi wajah guru, gerakan kepala dan gerakan badan adalah aspek sangat penting dalam berkuminikasi, terutama menyampaikan arti dari pesan lisan yang dimaksudkan. Ekspresi wajah misalnya, tersenyum, mengerutkan dahi, cemberut, menaikkan alis mata, dan sebagainya.

b. Variasi Penggunaan Media dan Alat Bantu Mengajar
1) Visual aids. Variasi alat atau bahan yang dapat dilihat, misalnya: grafik, bagan, poster, gambar, film, slide, dan sebagainya.
2) Audio aids. Variasi alat atau bahan yang dapat didengar, misalnya: suara radio, rekaman suara, deklamasi puisi, sosiodrama, telepon, dan sebagainya.
3) Motorik. Variasi alat atau bahan yang dapat diraba, dimanipulasi, dan digerakkan, misalnya: topeng, patung, boneka, dan lain-lain yang dapat diperagakan
4) atau dimanipulasikan.
5) Audio-visual aids (AVA). Variasi alat atau bahan yang dapat dilihat, didengar, dan diraba, misalnya: film, televisi, radio, slide projector yang diiringi
6) penjelasan guru.

c. Variasi Pola Interaksi dan Kegiatan Siswa
1) Pola guru-siswa: komunikasi sebagai aksi (satu arah).
2) Pola guru-siswa-guru: Ada balikan (feedback) bagi guru, tidak ada interaksi antarsiswa (komunikasi sebagai interaksi).
3) Pola guru-siswa-siswa: ada balikan bagi guru, siswa saling belajar satu sama lain
4) Pola guru-siswa, siswa-guru, siswa-siswa: interaksi optimal antara guru dan siswa, siswa dengan siswa (komunikasi sebagai transaksi, multiarah).
5) Pola melingkar: setiap siswa mendapat giliran untuk mengemukakan sambutan atau jawaban, tidak diperkenankan berbicara dua kali jika ada siswa yang belum mendapat giliran.

F. Keterampilan Bertanya
Bertanya dalam proses pembelajaran memainkan peranan penting, sebab pertanyaan yang tersusun secara baik dengan teknik pelontaran yang tepat akan memberikan dampak positif bagi siswa, yaitu:
1. meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran;
2. membangkitikan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi atau dibicarakan;
3. mengembangkan pola dan cara belajar aktif siswa, sebab berpkir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya;
4. menuntun proses berpikir siswa, sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa agar dapat menentukan jawaban yang benar;
5. memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.
6. Keterampilan dan kelancaran bertanya dari calon guru maupun guru perlu dilatih dan ditingkatkan, baik isi pertanyaannya maupun teknik bertanya.

1. Komponen Keterampilan Bertanya Dasar
a. Jelas dan Singkat
Pertanyaan guru harus diungkapkan secara jelas dan singkat dengan menggunakan kata-kata yang dapat dipahami siswa sesuai dengan taraf perkembangannya.
b. Pemberian Acuan
Sebelum memberikan pertanyaan, kadang-kadang guru harus memberikan acuan yang berupa pertanyaan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan dari siswa.
Contoh: Kita ketahui bahwa erosi tanah dapat disebabkan oleh air dan angin. Coba kamu sebutkan faktor penyebab yang lain yang mengakibatkan terjadinya erosi.
c. Pindah Giliran
Adakalanya suatu pertanyaan perlu dijawab oleh lebih dari seorang siswa karena jawaban siswa belum tepat atau belum memadai.
d. Penyebaran
• Untuk melibatkan siswa sebanyak-banyaknya di dalam pembelajaran, guru perlu menyebarkan giliran menjawab pertanyaan secara acak.
• Guru hendaknya berusaha agar semua siswa mendapatkan giliran secara sama dalam menjawab pertanyaan.
• Beda dengan pindah gilir: pada pindah gilir, beberapa siswa secara bergilir diminta menjawab pertanyaan yang sama, sedangkan pada penyebaran, beberapa pertanyaan yang berbeda, disebarkan giliran menjawab kepada siswa yang berbeda pula.

e. Pemberian Waktu Berpikir
Setelah mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa, guru perlu memberikan waktu beberapa detik untuk berpikir sebelum menunjuk salah seorang siswa untuk menjawabnya.
f. Pemberian Tuntunan
Bila siswa menjawab salah atau tidak dapat menjawab, guru hendaknya memberikan tuntunan kepada siswa agar dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.

2. Dasar Pertanyaan yang Baik
a. Jelas dan mudah dipahami siswa
b. Berikan informasi yang cukup kepada siswa untuk menjawab pertanyaan
c. Difokuskan kepada satu masalah atau tugas tertentu
d. Berikan waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir sebelum menjawab pertanyaan
e. Bagikanlah semua pertanyaan kepada seluruh siswa secara merata
f. Berikan respon yang ramah dan menyenangkan sehingga siswa berani menjawab pertanyaan
g. Tuntunlah jawaban siswa sehingga mereka dapat menemukan sendiri jawaban yang benar

3. Jenis pertanyaan yang baik
a. Jenis Pertanyaan menurut Maksudnya
• Compliance question, pertanyaan permintaan, misalnya: “Dapatkah kamu tenang agar suara Bapak/Ibu dapat kalian didengar semua?”
• Rhetorical question, pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban siswa, tetapi dijawab sendiri oleh guru, misalnya: “Mengapa setiap Muslim harus berwudlu sebelum melaksanakan salat? Sebab wudlu merupakan” … dan seterusnya.
• Prompting question, pertanyaan mengarahkan atau menuntun, yakni pertanyaan yang diajukan untuk memberi arah kepada siswa dalam proses berpikir. Apabila siswa tidak dapat menjawab atau salah dalam menjawab, guru mengajukan pertanyaan lanjutan yang akan mengarahkan atau menuntun proses berpikir siswa sehingga pada akhirnya siswa dapat menemukan jawaban bagi pertanyaan pertama tadi.
• Probing question, pertanyaan menggali, yaitu pertanyaan lanjutan yang akan mendorong siswa untuk mendalami jawabannya terhadap pertanyaan pertama. Dengan pertanyaan menggali ini siswa didorong untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas jawaban yang diberikan pada pertanyaan sebelumnya.

b. Jenis Pertanyaan menurut Taksonomi Bloom
• Pertanyaan pengetahuan (recoll question, knowledge question) atau ingatan dengan menggunakan kata-kata apa, di mana, kapan, siapa, dan sebutkan. Contoh: Sebutkan ciri-ciri micro-teaching!
• Pertanyaan pemahaman (comprehension question), yaitu pertanyaan yang menghendaki jawaban yang bersifat pemahaman dengan kata-kata sendiri. Biasanya menggunakan kata-kata jelaskan, uraikan, dan bandingkan. Contoh: Jelaskan manfaat micro teaching!
• Pertanyaan penerapan (aplication question), yaitu pertanyaan yang menghendaki jawaban untuk menerapkan pengetahuan atau informasi yang diterima. Contoh: Berdasarkan proses tersebut, kesimpulan apa yang dapat Anda berikan?
• Pertanyaan sintesis (synthesis question), yakni pertanyaan yang menghendaki jawaban yang benar, tidak tunggal, tetapi lebih dari satu dan menuntut siswa untuk membuat ramalan (prediksi), memecahkan masalah, mencari komunikasi. Contoh: Apa yang terjadi bila musim kemarau tiba? Apa yang Anda lakukan bila seorang siswa Anda tidak mau memperhatikan pelajaran?
• Pertanyaan evaluasi (evaluation question), yaitu pertanyaan yang menghendaki jawaban dengan cara memberikan penilaian atau pendapatnya terhadap suatu isyu yang ditampilkan. Contoh: Bagaimana pendapat Anda tentang fatwa haram bagi presiden wanita? Apa komentar Anda tentang politik uang?

4. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Kehangatan dan Keantusiasan
Untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, guru perlu menunjukkan sikap baik pada waktu mengajukan pertanyaan maupun ketika menerima jawaban siswa. Sikap dan cara guru termasuk suara, ekspresi wajah, gerakan, dan posisi badan menampakkan ada-tidaknya kehangatan dan keantusiasan.

b. Kebiasaan yang Perlu Dihindari
• Jangan mengulang-ulang pertanyaan bila siswa tidak mampu menjawabnya (menurunkan perhatian dan partisipasi siswa).
• Jangan mengulang jawaban siswa (buang waktu, siswa tidak memperhatikan jawaban temannya melainkan menunggu komentar dari guru)
• Jangan menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan sebelum siswa memperoleh kesempatan menjawabnya (siswa frustasi, dan mungkin tidak mengikuti pelajaran dengan baik)
• Usahakan agar siswa tidak menjawab pertanyaan secara serempak (guru tidak mengetahui dengan pasti jawaban siswa mana yang benar dan salah)
• Jangan menentukan siapa siswa yang harus menjawab sebelum mengajukan pertanyaan (siswa lain tidak memikirkan jawaban pertanyaan)
• Pertanyaan ganda: Apa yang menyebabkan terjadinya hujan dan bagaimana akibatnya bila turun hujan?